“Sunyi”

Tradisi sunyi mampir kembali dalam lembah malam. Terdengar sesekali isak tangis suara bayi yang sedang demam dari sebuah gubuk di pinggir sawah. Gubuk yang dihuni oleh keluarga kecil yang tak berdaya menjalani roda-roda takdir kehidupan. Kehidupan lingkungan yang terselimuti oleh kabut ke-bohong-an, ke-munafik-an, ke-sombong-an, ke-angkuh-an, ke-serakah-an, ke-licik-an serta ke-penghianat-an.

Binatang malam kian khusu berserah diri melantunkan puji-an dari balik semak-semak belukar. Rytme-nya begitu sangat harmonis menyapa angin yang sedang menari di pelatar ke-sunyi-an.

Sunyi, kata yang begitu pendek namun sulit diterka oleh logika. Sunyi, tak terbatasi oleh tempat. Sunyi, tak termakan oleh waktu. Sunyi, tak bisa dikonsep oleh manusia. Sunyi, berasal dari alam ke-tiada-an yang terjama dalam rasa. Sunyi, terletak dalam diri makhluq tak berdaya. Sunyi, area intim dari Sang Suara ke dalam jiwa. Sunyi, bersemayam bersama Sunyi itu sendiri.

Senin Pon, 21 Agustus 2017.

Artikel Lainnya

Leave a Comment