Sukses : Hak Prerogratif Tuhan

Kadang banyak kata yang kita ungkapkan, namun kita tak memahami betul maksud dari kata tersebut. Hal demikian sepintas tak berarti apa-apa, padahal pem-bendahara-an kata erat kaitanya dengan pembentukan pola pikir seseorang yang notabene makhluk berpikir.

Kali ini aku akan menceritakan sedikit dari kisah pengalamanku di akhir tahun 2015. Pada waktu itu aku ngobrol ringan dengan seorang kawanku disalah satu warung di kawasan Pantai Timur–Pantai Pangandaran.

Cuaca sore ‘sedikit’ ekstrim, kondisi air laut sedang mengalami fase pasang dan angin laut begitu kencang hingga mengantarkan ombak ke tepian dengan suara gemuruh–sangat menyeramkan menurutku. Udin adalah nama kawanku, namun aku biasa memanggilnya Din–panggilan akrab. Kawanku adalah seorang karyawan disalah satu hotel di kawasan wisata Pantai Pangandaran sejak tahun 2009. Obrolan pada saat itu, adalah tentang kekayaan dunia. Sebenarnya untuk urusan yang satu ini, aku sama sekali tidak ada pengalaman ataupun wawasan sedikitpun–aku saja belum tahu, sukses itu yang seperti apa. Namun minimalnya, aku jadi pendengar–diselingi cletukan– yang baik dalam situasi obrolan semacam itu.

Obrolan–tegur sapa tanya kabar–dimulai sejak detik pertama perjumpaan di warung kecil dengan bilik bambu anyam dan sebuah lampu bohlam 5 watt yang memancarkan sinar berwarna kuning-kuningan dari sela-sela kerajinan kerang yang tergantung mengelilingi lampu. Kala itu kawanku sangat muram, seolah ia tertindas oleh ketidakadilan roda zaman kerja rodi. Kerja rodi adalah sistem ekspoitasi manusia yang keji. “Din kenapa kamu begitu lesu? Tanyaku sambil menatapnya penuh prihatin. “Gak apa-apa, Sam”, jawabnya dengan pandangan menghadap ombak. “Akh, aku tak yakin dengan jawabanmu itu. Meskipun kita jarang bertemu, setidaknya aku paham betul gejolak rasa yang terpancar pada rona wajahmu itu”, tuturku. Ia beralih pandangan kepadaku dan bercerita, “Baiklah..baiklah !! Aku memang tak pandai bermain ekspresi layaknya para pemain sinetron. Begini Sam, aku kerja sudah sangat lama di hotel sebagai karyawan tetap. Aku pernah merasakan gaji 800 ribu per-bulan ketika aku awal-awal masuk dan sekarang aku menikmati gaji di atas UMR Kabupaten Pangandaran–lebih dari 1 juta”. Cerita Udin terpotong sejenak tatkala pesanan minuman yang sebelumnya telah dipesan datang. Dua cangkir kopi hitam dan kacang rebus sebagai cemilannya dan 2 bungkus rokok mild disajikan di meja berbahan bambu hitam.

Kopi hitam ia sripit kemudian sebatang rokok dinyalakan. Sedangkan aku sedang menikmati kacang tanah dengan metode rebus ketika Udin melanjutkan ceritanya, “Aku sangat heran, Sam. Kenapa aku tak kunjung-kunjung sukses?”. “Sukses bagaimana maksudmu”, sahutku penasaran. “Ya, sukses”, timpalnya. “Menurutmu indikator sukses itu seperti apa, Din?” tanyaku setelah mencicipi kopi. Sedikit ia merasa aneh dengan pertanyaanku dan kemudian ia menjawab, “sukses menurut pandangan orang, ya banyak harta alias sugih (bhs. Jawa)”. “Orang yang mana yang ngomong kaya gitu?”, desakku. “Orang pada umumnya”, pungkasnya dengan raut muka penuh tanda tanya.

Aku tak habis pikir dengan apa yang diucapkan oleh kawanku ini. Jujur, aku mengalami disinformasi dari makna sukses. Setelah aku menyalakan sebatang rokok, aku pun bertanya kembali pada Udin, “Menurutmu adakah dalil yang mengatakan bahwa orang yang telah lama bekerja akan pasti kaya? Itupun kalau kamu berasumsi bahwa sukses itu sama dengan kaya”. Ia termenung beberapa detik, dan dari kepulan asap ia menjawab, “aku belum pernah menemukan referensi yang benar-benar pasti terkait masalah tersebut. Namun aku pernah mendengar dari motivator bisnis pada acara entrepreneurship“. “Oh jadi begitu toh”, tuturku dengan sedikit senyum.

Angin laut kian sedikit renggang, suara dentuman ombak sedikit reda. Obrolan belum sampai pada kesimpulan akhir yang memuaskan. “Din pernahkan kamu melihat tetangga, sanak sodara mu ataupun siapa saja yang hampir semasa hidupnya dia belum juga ‘sukses’–kaya–dalam kehidupannya padahal hampir separuh umurnya ia gunakan untuk bekerja?”, aku kembali melontarkan pertanyaan dengan nada serius. “Banyak..Bahkan Abah-ku sendiri termasuk salah satunya”, ungkapnya dengan mata tajam. “Nah, apakah kamu menganggap Abah-mu itu orang sukses, padahal ia belum mampu menjadi seorang yang kaya raya hingga detik ini?”, pungkasku dengan nada menekan. Udin pun kembali tertegun dan kembali mendengarkan ucapaku, “Gini Din, manusia itu butuh bekerja untuk mencukupi kebutuhanya sehari-hari. Urusan kaya atupun tidak itu diluar kemampuan-mu. Mungkin ada orang yang bekerja dengan jujur dan disiplin tingkat tinggi, kemudian ia jadi kaya–sukses menurutmu–, namun hal tersebut jangan dijadikan pondasi seolah-olah ia sukses tanpa ada campur tangan Tuhan. Mungkin Tuhan menghargai kejujuran dan kedisiplinannya, oleh karea itu ia menjadi kaya. Dan semau-mau Tuhan Yang Maha Kaya, Dia mau menitipkan ‘secuil’ harta-Nya pada siapa saja yang Dia kehendaki. Kita tak bisa protes, bukan? Jadi sekali lagi, manusia hanya wajib berusaha–dan berdoa. Untuk hasilnya, itu mutlak hak prerogratif  Tuhan saja. Kita tak usah memikirkan sesuatu yang bukan bagian kita. Kita sama-sama cari Ridho Tuhan saja dalam bekerja”. Udin mengagguk seolah mengerti dengan apa yang aku ucapkan. “Menurut keyakinan-ku, kriteria sukses itu letaknya pada sejauh mana rasa syukur kita kepada Tuhan–tentunya dengan keikhlasan”. Tambah ku dengan nada sedang.

Helaan nafas panjang Udin seolah merontokan debu di dedaunan. Hal itu menunjukan ada beban berat yang sudah pupus–untuk sementara waktu. Wajah Udin yang semula muram dan lusuh kembali merona, dengan nafas yang begitu ringan dan ia pun mengajakku untuk pulang. Dan kebetulan, aku pun sudah sedikit tidak nyaman dengan situasi hawa pantai yang semakin dingin.

Ternyata kata ‘sukses’ begitu mengalami banyak pendangkalan makna. Sukses tak melulu harus urusannya dengn materi. Sukses itu tergantung selera egoisme masing-masing individu dalam menerapkan standar dari kata sukses itu sendiri. Setidaknya itu yang terpikirkan oleh ku–seseorang yang benar-benar tak paham dengan makna Sukses yang sebenarnya.

Rabu Pahing, 30 Agustus 2017

Artikel Lainnya

Leave a Comment