Sisi Lain Secangkir Kopi : Falsafah Kopi

Sudah banyak sekali yang membahas masalah kopi dari segi filosofis atawa falsafah-nya. Namun seolah tak pernah habis pembahasan tersebut. Selalu ada makna-makna baru yang bermunculan dari secangkir kopi.

Secangkir kopi memang memiliki sensasi sendiri bagi mereka yang benar-benar menikmatinya. Memang banyak juga, orang yang minum kopi hanya sebatas minum kopi saja–tanpa memikirkan makna dari secangkir kopi–itupun tak salah. Setidaknya mereka pernah ‘nyicipi’ kopi.

“Ritual ngopi” memang tak bisa dipungkiri sudah ‘merajalela’–menjamur–dimana-mana, ntah itu karena sekedar ikut-ikutan atawa memang suatu kebutuhan, baik itu pria ataupun wanita, mau di warung kopi pinggir jalan ataupun di cafe–intinya kopi.

Kopi Pangandaran
Foto : Ritual Ngopi Pangandaran

Sisi lain secangkir kopi menurutku pribadi memiliki makna seperti ini ; jika kopi diaduk bersama sedikit gula, itu namanya tidak terus-terang. Seumpamanya kopi tersebut dicampur dengan lebih banyak gula, menunjukan suatu kebohongan. Namun jika kopi itu hanya dilarutkan dengan air panas–tanpa campuran senyawa lain–kemudian diaduk, itu baru namanya kejujuran.

Oleh karena itu, aku lebih memilih kopi hitam tanpa gula. Selain rasa dan aromanya “masih orisinil”, aku pun mendapatkan sesuatu pelajaran yang berharga dari secangkir kopi hitam, yakni kejujuran yang letaknya ada di rasa dan aroma, bukan dari cangkir atau tempatnya bukan pula dari tampilan. Begitupun dengan diri kita, hendaknya kita mencontoh secangkir kopi hitam yang apa adanya. Jangan khawatir tanpa pemanis pun akan banyak yang berminat pada anda, karena modal anda bukan mobil, bukan tampang tapi modal anda adalah kejujuran itu lebih dari cukup.

Artikel Lainnya

3 Thoughts to “Sisi Lain Secangkir Kopi : Falsafah Kopi”

  1. Jujur nih min, saya juga penggemar kopi. Mau dong kopi kejujurannya.

    1. LiLiKid

      Tersedia di kedai kopi yang berada di Kawasan Pantai Pangandaran-Jawa Barat, Kak…

  2. kapan nih min, ngopi sambil kopdar bareng lagi?

    1. LiLiKid

      Nanti seumpama sikonnya pas, Ka.

Leave a Comment