Kisah Si Pagut Emas

Burung berpagut emas adalah dongeng yang sering diceritakan nenek menjelang tidur sewaktu Imran masih bocah di desa. Saat itu akhir tahun 1959. Jam delapan malam, desa Talang Kiahan telah gelap gulita. Rumah-rumah panggung yang berjejer di sepanjang tepi sungai telah sepi tertidur lelap dipeluk malam.

Sementara itu tiupan angin dingin dari perbukitan masuk ke rumah-rumah melalui celah-celah dinding papan. Suara desir angin dan gemericik riak sungai yang bertalu dengan bunyi kodok dan siulan burung-burung malam terdengar bagaikan sebuah simfoni menghantar tidur penduduk desa yang telah penat bekerja seharian.

“Malam ini nenek akan menceritakan kisah burung berpagut emas”, kata nenek setelah Imran dan saudara-saudaranya mulai membaringkan diri berjejer di atas kasur kapuk lebar di tengah rumah.

“Zaman dulu ada seekor burung yang malang. Setiap malam ia merintih sambil berdoa kepada Tuhan,” kata nenek memulai ceritanya. Suaranya terdengar sangat menenangkan jiwa cucu-cucunya yang hendak tidur. Wajah nenek tampak amat tenang, meskipun sudah banyak sekali kerutan di berbagai sudut mukanya. Usianya memang sudah lanjut, tidak kurang dari 70 tahun. Ia selalu duduk di tepi kasur setiap kali bercerita.

“Burung itu tidak mempunyai bulu seperti burung-burung lainnya. Ketika malam tiba ia selalu menggigil kedinginan apalagi kalau ada angin kencang dari perbukitan,” lanjut nenek pelan-pelan, tapi suaranya terdengar jelas. Matanya melihat satu per satu cucunya secara bergantian, seolah ingin memastikan bahwa mereka mendengarkan cerita itu.

“Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini. Hamba tidak meminta sesuatu yang mewah. Hamba hanya minta tumbuhkan bulu di badan hamba agar tidak kedinginan setiap malam,” kata nenenk menirukan permintaan si burung kepada Tuhan.

“Pada malam ketujuh ia berdoa, Tuhan mengabulkan permintaannya. Burung yang malang itu diberikan Tuhan bulu hitam yang lebat. Tentu saja burung itu sangat senang dan tak habis-habisnya berterima kasih kepada Tuhan”, Nenek menarik napas sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.

Mata Imran dan saudara-saudaranya berbinar-binar turut senang mendengarkan burung yang malang telah memiliki bulu yang lebat. Mereka lupa, kalau mereka hendak tidur malam itu.

“Tapi pegut emasnya mana,nek?” tanya Imran tak sabar. Ia mengubah posisi tidurnya dan memosisikan kupingnya ke arah nenek. Mungkin biar suara neneknya terdengar lebih jelas.

Nenek pun melanjutkan ceritanya, sambil tersenyum. Ia bahagia melihat respons cucu-cucunya.

“Setelah beberapa hari senang dengan bulu hitamnya, tiba-tiba terbang melintas beberapa burung kutilang yang bulunya berwarna-warni. Burung berbulu hitam itu kembali murung. Ia berdoa lagi kepada Tuhan agar diberikan bulu berwarna-warni seperti burung kutilang.”

“Doanya begini ya Nek…” sela Imran sambil mengangkat tangannya dan menirukan suara doa sebelumnya, lalu komat kamit seperti dukun mengobati pasiennya. Saudara-saudarnya tertawa.

Nenek pun tersenyum. Tak ada rona kesal sama sekali terhadap kelakuan Imran.

“Singkat cerita Tuhan pun mengabulkan doa si burung dan memberinya bulu berwarna biru campur merah dan kuning seperti warna pelangi,” lanjut nenek sambil menguap. Usia memang tak bisa dibohongi. Meskipun sudah berusaha untuk tetap ceria, tak urung si nenek mengantuk juga. Setelah menguap berkali-kali menahan kantuk, nenek minta kepada cucu-cucunya untuk berhenti bercerita.

“Terus, nek, terus, nek, mana pagut emasnya?” protes anak-anak bersahutan.

“Kesenangan berbulu warna-warni tidak bertahan lama,” lanjut nenek yang dengan terpaksa meneruskan ceritanya. “Suatu hari terbang melintas seekor burung rajawali yang terlihat amat perkasa. Selain berbulu bagus, burung rajawali memiliki tubuh yang lebih besar dan sayap yang lebar. Burung rajawali itu baru saja tiba terbang dari pulau di tengah laut yang jaraknya puluhan kilometer.”

“Pasti burung berwarna-warni berdoa lagi agar memiliki tubuh dan sayap seperti burung rajawali,” sela saudara lelaki Imran. “Doanya pasti seperti Kak Imran tadi,” sahut saudara perempuan Imran. Mereka masih bersemangat sekali.

“Benar,” kata nenek sambil mengangguk. Dibelainya rambut cucu-cucunya itu.

Setelah doanya dikabulkan lagi, burung warna-warni itu telah berubah menajadi burung perkasa dengan sayap yang kuat dan lebar seperti burung rajawali. Ia terbang ke sana kemari memamerkan dirinya. Namun burung itu kembali bersedih setelah menyaksikan banyak burung-burung lain sama perkasa dan berbulu indah seperti dirinya,” kata nenek sambil memperagakan burung rajawali terbang dengan kedua tangannya.

“Dia mau apalagi Nek?” tanya Imran, lirih.

“Tuhan, engkau sangat baik kepadaku. Aku minta bulu Kau kasih bulu. Aku minta bulu warna-warni Engkau kabulkan. Aku minta tubuh dan sayap yang besar dan kuat seperti burung rajawali juga Engkau penuhi, si burung mulai berdoa kembali,” sambung nenek. Anak-anak menunggu tak sabar apalagi yang ingin dimiliki burung itu. Isi kepala mereka menebak-nebak, apakah gerangan yang diinginkan. Mungkinkah ingin menjadi raja udara, seperti harimau yang raja hutan? Punya cakar yang kuat, taring yang kokoh dan terkaman yang mematikan?

“Aku hanya minta satu saja ya, Tuhan. Aku ingin berpagut emas agar aku lebih hebat dari burung-burung yang lain. Itu permintaan terakhirku, ya, Tuhan,” lanjut nenek menirukan keinginan burung itu. Imran dan saudara-saudaranya langsung membayangkan pagut emas. Hmm, bagus sekali. Pagut atau paruh adalah salah satu organ tubuh amat vital buat seekor burung. Amat luar biasa jika pagutnya terbuat dari emas. Ia akan kelihatan gagah dan perkasa. Pastilah pagutnya akan berkilau bila diterpa sinar matahari. Siapa pun yang melihatnyan pasti akan kagum. Tak salah jika burung itu meminta pagut emas.

“Berminggu-minggu si burung terus memanjatkan doa terakhirnya itu. Dan sampailah pada suatu hari yabg sangat terik. Ketika burung yang tak pernah puas itu sedang terbang tinggi di angkasa, doanya dikabulkan Tuhan.”

Imran dan saudaranya tampak senang. Burung itu akan segera memiliki pagut emas. Indah sekali. Mata mereka tidak lepas dari mulut nenek yang siap melanjutkan ceritanya. Sebagian dari mereka, mulutnya menganga lebar menanti apa yang akan terjadi. Burung itu akan punya pagut emas.

“Tiba-tiba datang seberkas sinar keemas-emasan menerpa dirinya. Pagutnya yang berwarna kecoklat-coklatan tiba-tiba berkilau karena telah berlapis emas tebal. Sejenak si burung sumringah bangga. Tapi hanya dalam hitungan detik perasaan gembira itu berubah menjadi ketakutan yang hebat,” nenek berhenti sebentar. Diperhatikan mimik wajah cucu-cucunya. Imran tampak berkerut. Dia bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi sehingga membuat burung itu ketakutan. Saudara-saudaranya yang lain terdiam dan menahan nafas.

“Ia tak kuasa menahan beban pagut emasnya yang sangat berat. Burung itu jatuh terhempas ke tanah,” sambung nenek.

“Mati nek?” tanya cucu-cucu serentak.

“Maaaatii,” jawab nenek sambil menguap.

“Cerita burung itu adalah perumpamaan nasib orang yang tak pernah puas, dan mudah-mudahan cucu-cucuku tidak bernasib seperti itu.” Nenek mengakhiri ceritanya dan memandangi semua cucu-cucunya itu.

*Cerita ini diambil dari sebuah novel karya M. Sjohirin dengan judul Burung Berpagut Emas ; Nasib tragis sang pemburu tahta

Artikel Lainnya

Leave a Comment